Analisis Dampak Musibah Pandemi Covid-19 Terhadap Perekonomian Indonesia

  Covid-19 adalah salah satu virus yang cukup membuat dunia gempar dan ketakutan ketika awal ditemukannya virus ini. Hal yang membuat virus covid-19 menjadi sangat ditakuti adalah sifat dari virus itu sendiri. Covid-19 adalah tipikal virus yang dapat menyebar melalui banyak media seperti perabotan berbahan kayu, pintu dari besi, plastik, air, bahkan udara yang kita hirup.

Sejak kemunculannya pertama kali di Indonesia pada awal Maret 2020, pemerintah lansung sigap melakukan segala tindakan pencegahan agar virus covid-19 tidak menyebar luas.

Namun upaya pemerintah nampaknya tidak disambut baik oleh masyarakat. Segalah jenis protokol kesehatan yang diwejangkan oleh pemerinta berlalu begitu saja layaknya angin sepoi-sepoi.

Akibatnya, angka penularan covid-19 di Indonesia bertambah. Pada akhir April 2020 saja, angka positif covid-19 di Indonesia sudah mencapai sepuluh ribu jiwa. Hal ini disampaikan lansung oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, kepada wartawan, Kamis (30/04/2020) sore.

Kini wabah covid-19 sudah melukai seluruh aspek baik itu kesehatan, maupun ekonomi.

Karena kasus covid-19 yang semakin meluas, pemerintah kemudian membuat keputusan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar(PSBB). Namun hal ini juga belum cukup untuk menyelesaikan masalah di sektor kesehatan. Bahkan, kebijakan PSBB ini justru memberi damage lebih pada sektor lain.

Mari kita melihat sedikit dari kacamata sektor ketenaga kerjaan. Dampak paling jelas terlihat adalah keputusan dari berbagai bidang usaha untuk mem-phk sebagian dari karyawannya. Hal ini terpaksa dilakukan karena kurangnya pemasukan kas perusahaan akibat dari PSBB, membuat perusahaan sulit untuk membayar upah para pegawainya.

Karena banyaknya kasus phk ini membuat beberapa rumah tangga kesulitan dalam membiayayi kebutuhan rumah tangganya. Terutama rumah tangga yang bergantung pada satu pekerjaan saja. 

Dampak dari kebijakan beberapa perusahaan untuk mem-phk karyawannya juga berdampak pada sektor ekonomi. Perputaran uang di Indonesia menjadi lambat, karena kurangnya daya beli masyarakat. 

Dampak negatif dari kurangnya daya beli masyarakat pun merambah sampai kepada usaha rumah tangga. Karena kurangnya daya beli masyarakat membuat usaha rumah tangga kehilangan pemasukan utamanya, bahkan sampai gulung tikar.

Karena hal ini, pemerintah kemudian menyiapkan subsidi besar-besaran untuk membantu meringankan beban masyarakat yang membutuhkan.

Sebagai salah satu contohnya, pemerintah memberikan subsidi berupa sembako kepada warga se-Jabodetabek dengan total subsidi sebanyak Rp 2,2 triliun.

Dana bantuan juga dialokasikan keluar jabodetabek sebanyak Rp. 600.000 untuk 576.000 keluarga per bulan selama tiga bulan. Total dana yang dialokasikan sebesar Rp 1 triliun.

Namun sepertinya hal ini tidak sepenuhnya efektif. Masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan tetap kesulitan untuk menambah penghasilannya karena kebijakan PSBB yang masih berlaku.

Hal ini membuat pemerintah mempertimbangkan kembali tentang kebijakan apa yang sepatutnya bisa digunakan untuk mendongkrak laju perkekonimian masyarakat serta diterima dan berdampak positif bagi masyarakat.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, pemerintah kemudian memperkenalkan kebijakan baru yaitu Pembatasan Sosial Berskala Mikro(PSBM). Usaha yang dilakukan pemerintah ini nampaknya tidak sia-sia. 

Dengan lebih memfokuskan pada penertiban protokol kesehatan, akses masyarakat untuk melakukan berbagai hal menjadi lebih mudah. Perputaran ekonomi pun berangus-angsur membaik. Banyak usaha rumah tangga yang kembali bisa membuka usahanya dan mendapat penghasilan.

Dikutib dari katadata.co.id, perekonomian Indonesia berangsur membaik. Indonesia resmi mengalami resesi setelah pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 tercatat minus 3,49% (yoy). Kendati negatif, angka ini lebih baik dibandingkan dengan Kuartal II yang negatif 5,32%. Hal ini sekaligus menunjukkan perekonomian Indonesia mengarah pada perbaikan. Apabila dibandingkan secara kuartalan (qtq) beberapa sektor perekonomian mengalamai perbaikan yang cukup signifikan..

Dapat kita simpulkan bahwa kebijakan pemerintah kali ini berdampak positif pada perekonomian Indonesia.

Namun, akibat dari PSMB yang diterapkan pemerintah ini justru membuat angka positif covid-19 bertambah pesat. Karena kurangnya edukasi dari pemerintah, dan juga masyarakatnya yang tidak memperdulikan himbauan protokol kesehatan dari pemerintah, mengakibatkan penyebaran covid-19 menjadi sangat cepat. 

Hingga November 2020, tercatat sudah ada lebih dari lima ratus ribu kasus penyebaran covid-19 di Indonesia.

Dapat kita simpulkan bahwa semua faktor sangat berpengaruh dalam pencegahan covid-19 agar tidak semakin menyebar luas. 

Kesaradaran masyarakat untuk mengikuti instruksi dari pemerintah sangatlah penting, karena tanpa adanya kesaradaran masyarakat dalam mengikuti instruksi pemerintah maka tidak akan ada satupun kebijakan pemerintah yang dapat menanggulangi wabah covid-19 ini.

Kita pastinya berharap agar semua permasalahan mengenai wabah covid-19 cepat berakhir. Namun kita juga harus paham bahwa untuk mensukseskan program pemerintah mengatasi covid-19, dibutuhkan timbal balik dari masyarakat agar semua program yang dicanangkan dapan berjalan dengan baik. 

Agar setiap sektor baik itu kesehatan, industri, pemerintah, bahkan sektor ekonomi, dapat direnovasi kembali dan aktifitasnya berjalan seperti semula.

Terima kasih.



Daftar Pustaka:

https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5fa8c404e9086/ekonomi-ri-berangsur-membaik



Comments